
JALAN PEDANG MUSASHI
Kalau kau mati, aku pun mati. Matiku akan punya arti bagiku seperti matimu berarti buatmu.
Kalau kau bisa mengakhiri hidupmu dengan tenang, aku pun bisa. Takkan ku terinjak layaknya serangga atau tenggelam dalam nestapa.
Akulah penentu jalanku sendiri. Tak seorang pun bisa melakukannya biar pun orang itu adalah engkau!
(Musashi by Eiji Yoshikawa, Buku Keempat: Angin)
Begitulah kata Otsu pada Musashi guna menjaga kemurnian Jalan Cinta, sekali pun yang akan mengacaukannya adalah Musashi sendiri.
Tentu Anda tahu kisah yang ditulis Eiji Yoshikawa ini:
Pertempuran Sekigahara. Setelah pertempuran berakhir, Musashi yang masih bernama Takezo mendapati dirinya terluka di tengah ribuan mayat bergelimpangan. Dalam perjalanan pulang ia melakukan tindakan gegabah yang menjadikannya buron dan akhirnya tertangkap.
Dan ia mengenal Otsu – gadis cantik yang menjadi tunangan Matahachi, sahabatnya sendiri. Otsu membebaskannya dan kelak menjadi Jalan Cintanya.
Tapi, apa mau dikata, ia kembali tertangkap.
Anggaplah kamar ini rahim bundamu, bersiaplah terlahir kembali. Jika melihat hanya dengan matamu, tak kan kau lihat apa pun kecuali sel gelap tak berlampu.
Tapi pandanglah lebih seksama. Lihatlah dengan mata hatimu dan berpikirlah. Kamar ini akan jadi sumber pencerahan. Pancuran pengetahuan
Terserah padamu apakah kamar ini jadi kamar kegelapan Atau kamar penuh cahaya berkilaun.
Begitu kata Pendeta Zen Takuan kepada Takezo. Tiga tahun pun berlalu dan ia dilepas dari sekapan di usia dua puluh satu. Lalu Takuan Soho sang Zen membaptisnya menjadi Miyamoto Musashi.
”Sekarang cuma ada pedang ini,” ujar Musashi setelah mereka berpisah. ”Satu-satunya barang di dunia ini yang harus jadi andalanku."
Ia letakkan tangannya ke gagang senjata dan berjanji pada diri sendiri:
Ku akan hidup dengan aturannya: aturan pedang! Ku akan menganggapnya jiwaku. Dan dengan belajar menguasainya ku akan berjuang perbaiki diriku: tuk menjadi manusia yang lebih berguna dan bijaksana.
Takuan mengikuti Jalan Zen. Dan aku dengan Jalan Pedangku. Ku harus jadikan diriku manusia yang jauh lebih baik dari dirinya.
Maka dari seorang plonco kalah perang di Sekigahara, kemudian berandalan tak berguna, perlahan ia menemukan jati dirinya.
***
Awalnya Jalan Pedang Musashi adalah menjadi yang terkuat. Maka ia pun menantang seluruh jago di tanah Jepang dalam 60 pertarungan tanpa terkalahkan. Pada usia 30, Musashi berhenti mencari lawan, merasa semua ahli pedang bisa ia kalahkan. Dan ia mulai menempuh Jalan Seni: jalan keindahan dan kelembutan, yang kemudian mewarnai Jalan Pedangnya.
Kisah hidup Miyamoti Musashi (1584 – 1646) menggambarkan transformasi dirinya mulai dari plonco, menjadi pendekar pedang yang menakutkan, hingga menjadi seniman yang kontemplasinya tentang filosofi kehidupan ia tuang dalam buku yang rampung sebulan sebelum ajalnya: Gorin no sho (Book of Five Rings), sebuah buku penuntun strategi Jalan Pedang.
Adakah relevansi Jalan Pedang Musashi sebagaimana buku Eiji Yoshikawa dengan dialog Shihuang Ti dengan Wuming dalam Ying Xiong?
Kelak kita akan lihat biografi Musashi sebagaimana ditulis William S. Wilson dalam the Lone Samurai. Dan untuk mengahiri artikel singkat ini, ada baiknya saya mengutip lagu ini:
Di suatu masa adalah setangkai ranting yang terbakar jiwanya Tumbuh di tanah kering membara terkena matahari Suara air sayup-sayup Semilir angin jarang berhembus
Ranting itu memancarkan jerit pertanyaan: Mampukah menantang kehidupan? Meniti usia?
Karena ia lemah tak berdaya di hadapan dinding batu bermakna kenyataan yang pahit yang muram ...
Ranting yang sendiri mencari-cari Riuh berita ombak dan deru topan menarik hati Ia ingin belajar menembus tingkatan langit Ia tahu makna kekerdilan dan kekuatan Ia ingin menafsir asanya tentang jaman yang jauh...
(Ranting yang Bertahan Hidup, theme song Taiga Dorama: Musashi)
Note: disadur dari http://indozone.net
|